Tentang Belajar di Qatar

Qatar adalah negara berdaulat yang terletak di bagian barat Asia. Berbagi perbatasan dengan Arab Saudi dan juga dikelilingi oleh Laut Mediterania, perpanjangan dari Indian Lautan juga dikenal sebagai Teluk Persia. Meski merupakan negara kecil, karena mengambil kursi ke-38 dalam daftar negara terkecil di dunia dengan ukuran mulai dari 11,586km2.

Qatar dipandang sebagai rumah bagi banyak orang dan tempat yang dikunjungi oleh turis, migran, dan pelajar. Pada awal tahun 2020, total populasi Qatar lebih dari 2.5 juta: lebih dari 310,000 warga Qatar dan lebih dari 2.2 juta ekspatriat statistik ini mengungkapkan Qatar memiliki budaya yang kaya dan akomodatif.

Qatar telah banyak mengembangkan dirinya dalam aspek pendidikan sehingga telah mencapai kemampuan untuk melatih para elitnya sendiri. Ini memiliki setiap tingkat pendidikan, dari tingkat dasar hingga tingkat tersier dan memiliki salah satu kursus pendidikan global terbaik. Banyak sekolah internasional telah menyebarkan tentakel mereka di Qatar yang juga membantu sektor pendidikan di negara ini.

Pendidikan memainkan peran penting dalam program pembangunan Qatar karena pemerintah dengan cepat menyadari pentingnya meningkatkan infrastruktur pendidikan, dan sumber daya yang sangat besar dari booming minyak telah menyediakan sarana untuk melakukannya. Dengan transformasi hebat dalam sistem pendidikan.

Qatar telah menjadi tujuan nomor satu bagi seorang siswa yang siap untuk melanjutkan pendidikan mereka hingga ke tingkat tersier. Qatar membangun kota Pendidikan untuk dirinya sendiri, sebuah kampus yang terdiri dari banyak cabang perguruan tinggi dan universitas lokal. Banyak siswa memilih untuk belajar di Qatar karena standar pendidikannya yang tinggi dan biaya kuliah yang terjangkau.

Pada artikel ini, kita akan melihat Biaya Belajar di Qatar, Biaya Hidup, Biaya Kuliah untuk Belajar di Qatar.

Biaya Belajar di Qatar
Biaya biaya kuliah tergantung pada masing-masing institusi. Siswa lokal dan internasional membayar biaya yang sama. dengan harga penuh sekitar 72,100 QR per semester Itu sekitar US $ 19,800.

Beberapa universitas membebankan biaya berdasarkan ‘jam kredit’, dan memiliki sekitar jam kredit 12 setiap semester. Misalnya, Universitas Qatar, biaya program sarjana 1000 QR yang setara dengan $ 365.00 per jam kredit. Peluang beasiswa ditawarkan kepada beberapa pelamar terpilih dari luar Qatar untuk mengejar program sarjana. Pelamar ini dapat dinominasikan oleh kedutaan mereka atau dapat mendaftar langsung ke universitas.

Souurce https://worldscholarshipforum.com/

Sepuluh Desa Wisata Terbaik di Indonesia

Tahun 2017 yang lalu, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) telah menetapkan 10 Desa Wisata Terbaik yang berhasil mengelola potensi pariwisata untuk majukan perekonomian warga. Tujuan dari penganugerahan ini, sebagaimana dikatakan Eko Sandjojo, Menurut Mendes PDTT pemberian anugerah ini, dilaksanakan untuk mendukung visi pemerintah dalam memajukan daerah melalui pariwisata karena sektor tersebut dinilai cepat dan mudah dikembangkan.

Kesepuluh desa yang terpilih mewakili masing-masing satu kategori, yaitu:

Desa Madobak, Mentawai : Kategori Desa Adat Terbaik

Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) memilih 10 Desa Wisata Terbaik yang berhasil mengelola potensi pariwisata untuk majukan perekonomian warga. Menurut Mendes PDTT Eko Sandjojo, pemberian anugerah bagi sepuluh desa wisata terbaik ini, dilaksanakan untuk mendukung visi pemerintah dalam memajukan daerah melalui pariwisata karena sektor tersebut dinilai cepat dan mudah dikembangkan.

Kesepuluh desa yang terpilih mewakili masing-masing satu kategori, yaitu:

Desa Madobak, Mentawai : Kategori Desa Adat Terbaik

Selain potensi laut, Kepulauan Mentawai dikenal dengan tiga desa tradisional yang masih memegang adat, salah satunya adalah Desa Madobak. Desa yang terletak di Kecamatan Siberut Selatan, Mentawai, Sumatra Barat ini, miliki budaya tato yang diyakini sebagai budaya tato tertua di dunia. Keseriusan pemerintah setempat untuk melestarikan keunikan budaya lokal, membuat desa yang terletak di hulu sungai Siberut Selatan ini terpilih sebagai Desa Adat Terbaik.

Desa Taman Sari, Banyuwangi : Kategori Jejaring Bisnis

Berada di kawasan Gunung Ijen di Kecamatan Licin yang populer dengan wisata alamnya, Desa Taman Sari yang diapit Kampung Penambang, Kampung Bunga dan Kampung Susu ini diresmikan sebagai desa wisata pada pertengahan 2016. Selain kawah gunung di Ijen, integrasi keunikan budaya di tiga kampung di Taman Sari, membuat wisatawan tertarik untuk mampir dan melihat keunikan budaya masyarakat Osing. Osing merupakan suku asli di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Pentas musik kelas dunia pun diselenggarakan di sini, Ijen Summer Festival merupakan salah satunya.

Desa Pujon Kidul, Malang : Kategori Desa Agro

Perpaduan gunung dan sawah tak pernah gagal manjakan mata. Ditambah kopi hangat menggugah rasa, kegiatan menikmati alam menjadi begitu istimewa. Hal inilah yang ditawarkan oleh Desa Wisata Pujon Kidul, Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang, Jawa Timur yang populer dengan air terjun Coban Sumber Pitu. Dinaungi Rumah Kampung Lestari, kegiatan argobisnis yang dilakukan warga menjadi daya tarik tersendiri. Ada dusun pengolah susu sapi, budidaya tanaman obat keluarga, hingga perkebunan seperti markisa, apel dan jambu.

Desa Sungai Nyalo, Painan : 1. Kategori Perkembangan Tercepat

Terletak di Kecamatan Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat, desa adat berbentuk nagari ini dikenal sebagai Kawasan Mandeh Painan. Kawasan pesisir pantai ini miliki pantai dan bukit yang menjadi andalan. Selain Bukit Mandeh yang menawarkan pemandangan batu-batu berbentuk pulau, ada pula Pantai Carocok yang terkenal dengan Pulau Cubadak yang masih sangat asri. Meski belum begitu dikenal di dalam negeri, turis asing banyak yang berwisata ke kawasan yang dijuluki “Paradise of the South” ini.

Desa Ubud, Gianyar : Kategori Budaya:

Kemasyuran Desa Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, telah merambah dunia, akibat buku “Eat, Pray, Love” karangan Elizabeth Gilbert. Juga film adaptasi buku tersebut, yang dibintangi Julia Roberts. Buku dan film ini secara utuh mampu gambarkan keindahan budaya Ubud, beserta keunikan masyarakatnya. Ubud telah menjadi alasan bagi pelancong dalam dan luar negeri, untuk datang ke Indonesia.

Desa Waturaka, Ende : Kategori Alam:

Desa Waturaka, Kecamatan Kalimutu, Kabupaten Ende, NTT terletak tak jauh dari kawasan terkenal Danau Kelimutu. Selain pemandangan cantik, desa ini mengusung konsep wisata yang sangat unik, yaitu melibatkan wisatawan dalam kegiatan sehari-hari. Wisatawan yang berkunjung akan tinggal di rumah penduduk, lalu melakukan kegiatan sebagaimana keseharaian warga. Jadi jangan heran, jika tiba di sana melihat bule yang mencangkul di ladang, mengangkat batu untuk bangunan rumah, maupun mengajar Bahasa Inggris di sekolah.

Desa Seigentung, Gunungkidul : Kategori IPTEK:

Gunungkidul merupakan salah satu kabupaten di DI Yogyakarta yang berkembang karena potensi wisatanya. Berada di dataran tinggi yang terbentuk atas muntahan gunungapi, Gunungkidul menyimpan beragam ilmu pengetahuan. Oleh pemerintah setempat, ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) bahkan dijadikan unggulan yang mampu tingkatkan perekonomian warganya.

Desa Bontagula, Bontang : Kategori Maritim:

Menjadi wilayah industri tak membuat Kabupaten Bontang, Kalimantan Timur menjadi tak menarik untuk dikunjungi. Posisi Bontang yang diapit laut, membuat bibir pantainya sangat indah. Salah satu keindahan maritim terbaik yang dapat dikunjungi di Bontang adalah Desa Bontagula. Dengan menjadikan keindahan laut dan aktivitas warga pesisir pantai sebagai atraksi utama, desa ini diganjar penghargaan.

Desa Ponggok, Klaten : Kategori Pemberdayaan Masyarakat

Umbul Ponggok di Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, bisa jadi merupakan lokasi wisata paling populer se-Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Tempat berbentuk kolam alami ini, dikenal sebagai tempat belajar bagi para penyelam pemula. Yang menarik adalah, adanya beragam instalasi bawah air yang sangat seru untuk pecinta foto. Salah satu dampak dari adanya Umbul Ponggok, warga desa di sekitar lokasi wisata pun ikut merasakan manfaat. Desa ini mampu hasilkan Rp 6,5 milyar dalam setahun!

Desa Teluk Meranti, Pelalawan, Riau : Kategori Kreatif:

Terletak di Kabupaten Pelalawan, Riau, Desa Teluk Meranti menjadi salah satu desa yang dikenal peselancar dunia. Meski tidak memiliki ombak sebaik di Kepulauan Nias, ombak bono telah dijajal peselancar dunia. Sebab di isnilah satu-satunya tempat dimana wisatawan dapat berselancar di sungai, bukan laut. Ombak bono merupakan gelombang air yang terletak di muara Sungai Kampar, Pelalawan, Riau. Kreativitas pengelola wisata setempat mampu promosikan potensi tersebut secara kreatif.

Info Relawan

UN Volunteer
membuka kesempatan menjadi Relawan Covid-19

Kesempatan menjadi relawan Covid – PBB (UNV)

Requirements

  1. memiliki setidaknya dua tahun pengalaman profesional
  2. berusia setidaknya 22 tahun untuk tugas Relawan PBB nasional, dan setidaknya 25 tahun untuk tugas Relawan PBB internasional.

Cabai Sumedang Yang Melimpah

Cabai Sumedang Yang Melimpah

Cabai (Capsium sp.) dikenal sejak dulu sebagai bumbu masakan. Awalnya tanaman cabai merupakan tanaman liar di hutan-hutan. Beberap areferensi menyebutkan bahwa cabai berasal dari Amerika Selatan, darisana tanaman cabai menyebar hingga ke seluruh dunia.

Cabai muncul di nusantara pada abad ke 16, yakni disaat rempah-rempah menjadi pusat perekonomian dunia. Menurut beberapa sumber cabai dibawa ke nusantara oleh Ferdinand Magellan, seorang penjelajah portugis pada penyebrangannya menyebrangi samudera pasifik. Namun juga tidak menutup kemungkina cabai hadir jauh sebelum itu.
Bukan orang Indonesia namanya jika tak doyan makan pedas. Rasanya ada yang kurang jika makan tanpa makanan pedas. “Semakin pedas semakin enak”, begitu katanya. Rasa pedas memang sudah seperti rasa yang wajib ada di setiap makanan terutama di kalangan anak muda. Dengan begitu jumlah permintaan cabai dan cabai rawit di Indonesia terus meningkat, begitu pula dengan permintaan cabai merah dan cabai rawit di Kabupaten Sumedang. Hal ini ditunjukan dengan terpilihnaya cabai sebagai komodit yang paling banayak ditanam di Kabupaten Sumedang.

Produksi Cabai Kabupaten Sumedang
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Sumedang, produksi cabai merah di Kabupaten Sumedang mencapai 42.033 Ton pada tahun 2018 dan meningkat menjadi 50.348 Ton pada tahun 2019. Sedangkan untuk cabai rawit jumlah produksi mencapai 33.268 Ton pada tahun 2019, hal ini juga menunjukkan peningkatan dari tahun 2018 yang hanya sebanyak 27.578 Ton. Dari 26 kecamatan yang ada di Kabupaten Sumedang 21 kecamatan diantaranya merupakan penghasil tanaman cabai dengan luas area mencapai 581 hektar.Jumlah luas lahan ini terus mengalami peningkatan sejak tahun 2016 yang pada mulanya hanya seluas 462 hektar , meningkat menjadi 516 hektar di tahun 2017 namun mengalami penurunan di tahun 2018 menjadi 471 hektar. Diperkirakan jumlah ini akan terus meningkat di masa yang akan datang.

Sedangkan untuk cabai rawit, luas lahan mencapai 316 hektar di seluruh wilayah Sumedang. Angka ini berkebalikan dengan luas lahan cabai besar karena terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2016 luas lahan mencapai 341 hektar namun menurun sebanyak 8 hektar di tahun 2017 dan menyusut menjadi 320 hektar di tahun
berikutnya. Kecamatan Pamulihan merupakan penghasil cabai terbesar di Kabupaten Sumedang dari tahun ke tahun. Hasil panen yang melimpah ini bukan hanya didistribusikan ke seluruh wilayah Kabupaten Sumedang dan Jawa Barat, namun pendistribusian juga mencapai Jabodetabek, jumlah yang disalurkan pun tidak sedikit yakni mencapai 3-4 ton.
Menurut Kepala Bidang Hortikultura pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Sumedang, Nani Kordiani, sentra cabe di Kabupaten Sumedang berada di wilayah Mangkarnata, yaitu wilayah di kaki Gunung Manglayang, Kareumbi, Cakrabuana,dan Tampomas yang berada di Kecamatan Tanjungsari, Sukasari, Pamulihan, Cibugel, Wado, dan Cimalaka.
Nilai Tukar Petani

Sejalan dengan produksi cabai yang terus meningkat baik di Sumedang maupun di Jawa Barat, angka Nilai Tukar Petani (NTP) terus meningkat hingga mencapai 112,36 yang artinya petani mengalami surplus karena harga produksi naik lebih besar daripada kenaikan harga konsumennya sehinggal petani memliki lebih bnayak pemasukan daripada pengeluaran. Pemerintah berharap angka tersebut akan terus naik yang didukung dengan bnayak bantuin yang diberikan pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.

Pemerintah Kabupaten Sumedang maupun Pemerintah Pusat juga turut andil dalam meningkatkan produksi cabai di Sumedang, hal ini dibuktikan dengan penyaluran dana bantuan senilai Rp 40,95 miliar yang diberikan langsung oleh Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman sebagai bentuk apresiasi kepada para petani dan pemerintah Kabupaten Sumedang dalam Pertemuan Apresiasi dan Sinkronisasi Program Kementrian Pertahanan 2019 di kantor Bupati Sumedang. Bantuan ini diharapkan dapat memotivasi petani dan pemerintah Kabupaten Sumedang untuk terus bekerja keras dalam meningkatkan produksi dan kesejahteraan petani.

Penulis :Assifa Mareta – Mahasiswa Politeknik Statistika STIS

Profil – Asyikin

Profil – Asyikin

Asyikin

Asyikin

Asyikin (Master of Law), a Human Rights activist with 15+ years’ experience
of advocating human rights issues such as human rights for children,
women and marginalized communities, including asylum seekers and refugees.

Address:

Jl. Wijaya Kusuma I/5 No. 127 RT 003/RW 007, Kel. Malaka Sari Kec. Duren
Sawit Jakarta Timur, 13460

Phone: +62 (0)82298056769

Email: asyikinkonsil@gmail.com

Languages

English – Fluent
Arabic   – Fair

Summary

Asyikin (Master of Law), a Human Rights activist with 15+ years’ experience of advocating human rights issues such as human rights for

Asyikin  (Master  of  Law),  a  Human  Rights  activist  with 15+ years’  experience of advocating  human  rights  issues  such  as human  rights for  children,  women  and marginalized communities,  including  asylum  seekers  and  refugees.
Experienced

Advocacy specialist with strong lobbying and organizational skills; has been involved in various  education  program  aimed  at  improving  the  quality, access and  relevance of education  especially  for  basic  education  implemented  by  international  agencies  such as  Save  the  Children, USAID – Decentralized Basic  Education (DBE),  Project  Concern International  (PCI),  and Save  the  Children;  has been engaged  in advocating  United Nations  Guiding  Principles  on  Business  and  Human  Rights  (UNGPs) with  Konsil  LSM Indonesia; has been  actively involved in  the  preparation  of  draft  of  National  Action Plan  (NAPs)  on  Business  and  Human Rights facilitated  by the  Directorate General  of Human Rights  Cooperation of the Ministry  of  Law  and  Human  Rights  of  Republic  of Indonesia; has been engaged in the discussion with UNHCR in regard to handling of asylum seekers and refugees in East Nusa Tenggara particularly in Kupang, and has been part of the UNHCR participatory assessment team in Kupang in 2016 with the aim of promoting gender equality and rights of all persons  of concern  of all ages; skilled  at  communicating  and  building  relationship  with  broad  range  of  high  level government  officials;  equipped  with strong  background  in  project  management and implementation  with  various international  agencies  i.e.  INGOs  and  UN; has  produced bi-lingual consolidated reply (a semi-scientific knowledge products using UN platform) published  by  UNORC. Besides,  he  has broad range  of networks  with NGOs  and  CSOs accross the provinces in Indonesia.

Skill Highlights

•     Project management

•     Training & capacity building

•     Translator/interpreter

Experience 

•     Lobby & advocacy

•     Legal drafting

•     Communication

Program Manager – 03/2019 – 04/2020 

Konsil LSM Indonesia (Indonesia NGO Council), Jakarta 

Responsible for managing programs in the field of advocacy, research, and capacity building for NGOs; Preparing Planning, coordinating program implementation, conducting program monitoring and evaluation, and compiling Program Reports to Executive Directors; Reviewing regulations which are detrimental to the interests and position of civil society; Building networks / alliances with civil society organizations, media and academics in conducting advocacy; Coordinating the capacity building activities for Konsil LSM Indonesia members; Participating in formulating annual program planning activities together with the Executive Director and KPN (Management), and member representatives; Participating in public forums conducted by the Government (i.e. executive, legislative and judiciary, state commissions), NGOs, Universities, Media and Business Sector; Developing new innovation and advocacy initiatives and programs based on existing achievements with other parties;

 

Advocacy Specialist – 02/2015 – 02/2018

Save the Children International, East Nusa Tenggara 

Responsible for developing advocacy strategies at both district and provincial level; Monitoring and assisting advocacy focal points of each district in the implementation of advocacy strategies have been developed; Building and maintaining good relationship with all related stakeholders at district and provincial level (i.e. Provincial and District Education Office, Provincial and Regional House of Representative, Education Quality Assurance Board (LPMP), local and international INGOs, and University; And representing the organization towards external stakeholders